
Menjadi Warga Dunia Tanpa Kehilangan Akar
Generasi hari ini didorong untuk pergi sejauh mungkin. Kuasai bahasa Inggris, raih skor TOEFL tinggi, belajar ke luar negeri, pahami teknologi terbaru, bangun jejaring internasional, dan bersainglah di panggung global. Semua itu penting. Namun ada pertanyaan yang lebih mendasar: setelah seseorang memiliki semua kemampuan itu, ia akan menggunakannya untuk apa, untuk siapa, dan dengan nilai apa?
Pertanyaan itulah yang terasa relevan ketika sebanyak 20 pendidik di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) mengikuti Nasima Education Scholarship (NES): English Capacity Building for NU Educators Batch #4. Pelepasan peserta asal Jawa Tengah berlangsung di Lobi Nusantara SMA Nasima, Semarang, Jumat (7/8/2026). Program ini mengusung tema “Integrating Noble Ethics, Global Competency, and National Integrity”—sebuah tema yang sebenarnya berbicara jauh melampaui kemampuan berbahasa Inggris.
Seseorang bisa sangat kompeten tetapi egois. Ia dapat fasih berbicara dalam bahasa dunia tetapi tidak lagi memahami penderitaan orang-orang di sekitarnya. Ia bisa memiliki gelar internasional tetapi memandang masyarakat tempat ia berasal hanya sebagai tempat yang harus ditinggalkan. Sebaliknya, seseorang dapat begitu mencintai bangsanya hingga menganggap dunia luar sebagai ancaman. Di antara dua ekstrem inilah pendidikan memiliki pekerjaan yang lebih besar daripada sekadar meningkatkan kompetensi.
Martha Nussbaum mengingatkan tentang silent crisis dalam pendidikan modern. Ketika pendidikan terlalu tunduk kepada produktivitas, pertumbuhan ekonomi, dan daya saing, manusia perlahan diperlakukan seperti mesin produksi. Keberhasilan lalu diukur dari pekerjaan, pendapatan, keterampilan teknis, dan kemampuan memenangkan kompetisi. Yang justru terancam hilang adalah kemampuan yang menjadikan manusia sungguh manusia: berpikir kritis, mempertanyakan otoritas, berempati, membayangkan kehidupan orang lain, serta memperlakukan sesama bukan sebagai alat.
Karena itu, noble ethics tidak cukup diterjemahkan sebagai kesopanan. Akhlak mulia berarti integritas ketika tidak ada yang mengawasi, keberanian memilih yang benar ketika pilihan itu tidak menguntungkan, kemampuan menghormati martabat manusia, dan kesediaan menggunakan keahlian untuk sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.
Kecerdasan memberi manusia kekuatan. Etika menentukan ke mana kekuatan itu diarahkan.
Namun karakter yang baik saja tidak cukup. Niat baik tanpa kapasitas sering berhenti sebagai keinginan.
Di sinilah gagasan Fernando Reimers mengenai global competency menjadi penting. Dunia tidak lagi dapat dipahami hanya melalui batas-batas negara. Perubahan iklim, pandemi, teknologi, perdagangan, kecerdasan buatan, migrasi, hingga ketimpangan ekonomi bergerak melampaui perbatasan. Reimers bahkan melihat pendidikan global sebagai semacam new civics abad ke-21.
Kompetensi global karena itu jauh lebih luas daripada kemampuan berbicara bahasa Inggris. Ia mencakup knowledge, skills, and dispositions: pengetahuan untuk memahami dunia, keterampilan untuk berinteraksi dan bekerja lintas budaya, serta disposisi batin untuk menghargai perbedaan dan berkolaborasi menghadapi persoalan bersama.
Dalam kerangka itu, bahasa Inggris adalah pintu, bukan tujuan akhir.
Skor TOEFL tinggi dapat membuka akses terhadap beasiswa, universitas, jurnal ilmiah, konferensi, dan jejaring internasional. Namun kemampuan membuka pintu tidak otomatis menjawab ke mana seseorang harus berjalan setelah memasukinya. Kita dapat berbicara kepada dunia, tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang hendak kita katakan kepada dunia?
Lalu, apakah menjadi semakin global berarti akar kebangsaan semakin tidak relevan?
Benedict Anderson justru membantu kita memahami sebaliknya. Ia menyebut bangsa sebagai imagined community. “Imagined” bukan berarti palsu. Sebagian besar warga Indonesia tidak pernah saling bertemu, tetapi tetap dapat merasakan bahwa mereka hidup dalam suatu kebersamaan yang sama: berbagi sejarah, bahasa, ruang hidup, ingatan, persoalan, dan harapan.
Di situlah national integrity memperoleh makna. Kebangsaan bukan tembok untuk menolak dunia, melainkan kesadaran mengenai komunitas kepada siapa pengetahuan dan kemampuan kita memiliki tanggung jawab.
Maka, pendidik masa depan harus memiliki ketiganya sekaligus: noble ethics sebagai kompas, global competency sebagai kapasitas, dan national integrity sebagai akar sekaligus arah pengabdian.
Tanpa kompetensi, niat baik mudah menjadi ketidakberdayaan. Tanpa etika, kompetensi dapat berubah menjadi oportunisme. Tanpa akar kebangsaan, keberhasilan global bisa berakhir menjadi pencapaian individual yang tidak pernah kembali sebagai manfaat sosial.
Itulah mengapa program seperti NES semestinya tidak berhenti pada peningkatan skor TOEFL. Tantangannya jauh lebih besar: melahirkan pendidik yang mampu memasuki percakapan dunia, belajar dari dunia, tetapi tetap mengetahui nilai apa yang mereka bawa dan kepada siapa pengetahuan itu kelak diabdikan.
Dunia mungkin membuka pintu bagi mereka yang kompeten, tetapi karakter dan akar menentukan apa yang mereka lakukan setelah melewatinya.
8 Agustus 2026
@Kyarra – Pare Kediri